
Wamena, 4 Oktober 2025-Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Dr. Ones Pahabol, menerima kunjungan resmi dari Bupati Yalimo, Dr. Nahor Nekwek, M.M., untuk membahas kelanjutan rencana rekonsiliasi sosial di Kabupaten Yalimo serta menyampaikan permohonan maaf dari Pemerintah Kabupaten Yalimo dan masyarakat atas insiden yang terjadi. Pertemuan ini digelar menyusul batalnya kegiatan doa rekonsiliasi yang semula dijadwalkan pada 3 Oktober 2025, akibat aksi pelemparan batu oleh sekelompok orang yang menyebabkan Wakil Gubernur harus dievakuasi ke Wamena.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang terjadi. Mereka menegaskan bahwa rekonsiliasi bukan sekadar seremoni, melainkan proses spiritual dan sosial yang harus melibatkan seluruh elemen masyarakat—termasuk tokoh adat, gereja, pemuda, dan keluarga.
“Rekonsiliasi harus dibangun atas dasar firman Tuhan, tanpa gesekan, tanpa ejekan, dan tanpa tindakan yang melukai. Kita orang Papua Pegunungan, 99% berkulit hitam, dan kami menolak segala bentuk rasisme. Ini bukan hanya soal Yalimo, tapi soal martabat manusia yang harus dihormati di seluruh dunia,” tegas Dr. Ones Pahabol.
Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter bagi generasi muda di Yalimo, serta peran orang tua dalam membina anak-anak secara rohani dan moral. Menurutnya, pembinaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan gereja, tetapi juga keluarga sebagai fondasi utama.
“Kemarin saya menyaksikan sendiri, doa tidak boleh dilakukan. Itu sangat tidak boleh. Jika saya sebagai Wakil Gubernur tidak diterima, saya bisa mengundurkan diri. Tapi jika Tuhan tidak boleh hadir, itu tidak bisa diterima. Ini menunjukkan bahwa pembinaan kita masih kurang dan harus diperbaiki,” ujarnya.
Di akhir pertemuan, kedua pihak sepakat bahwa Kabupaten Yalimo merupakan wilayah strategis, baik dalam pembangunan manusia maupun ekonomi. Sebagai pintu masuk ke wilayah pegunungan, Yalimo harus menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan provinsi dan nasional.
“Kami akan terus evaluasi, merenung, dan memperbaiki. Ada PR besar yang harus kami selesaikan bersama—pemerintah, gereja, tokoh adat, dan seluruh elemen masyarakat. Kita harus berani membangun Papua Pegunungan dengan kualitas manusia yang unggul dan ekonomi yang maju,” tutup Ones Pahabol.
Sementara itu, Bupati Yalimo, Dr. Nahor Nekwek, M.M., memastikan bahwa situasi di wilayahnya telah kembali aman dan kondusif pasca insiden yang terjadi saat acara doa rekonsiliasi bersama masyarakat. Dalam pernyataan resminya, Bupati menyampaikan permohonan maaf kepada Wakil Gubernur, tim Pemerintah Provinsi, serta Kementerian Sosial atas ketidakharmonisan yang terjadi.
“Kami, Pemerintah Kabupaten Yalimo, menyampaikan permohonan maaf kepada Bapak Wakil Gubernur dan seluruh tim yang hadir. Saya sebagai Bupati, dan kami sebagai orang Yali, menganggap hubungan ini seperti kakak dan adik. Kami telah merancang proses rekonsiliasi yang baik demi masa depan generasi Yalimo, termasuk tradisi bakar batu sebagai simbol perdamaian,” ujar Dr. Nahor Nekwek.
Ia menjelaskan bahwa insiden pelemparan terjadi akibat miskomunikasi antara staf pelaksana. Hal ini menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat, terutama terkait dana rekonsiliasi yang disalurkan oleh Wakil Gubernur.
“Ada anggapan bahwa dana tersebut diberikan kepada Bupati dan tidak disampaikan kepada masyarakat. Padahal, kami hanya menyampaikan bahwa proses rekonsiliasi harus tetap berjalan. Kami ingin semua pihak berkomitmen menyelamatkan generasi ke depan dari dampak rasisme, yang merupakan ancaman nyata bagi kita orang Papua dan masyarakat berkulit hitam,” jelasnya.
Bupati juga mengungkapkan bahwa setelah insiden tersebut, sempat terjadi pengejaran terhadap rombongan pemerintah hingga ke Polres. Namun, melalui dialog langsung, masyarakat mulai memahami situasi sebenarnya.
“Malam harinya, kami membentuk panitia baru yang melibatkan lima distrik. Mereka menyampaikan permohonan maaf dan membuat pernyataan bersama. Pemerintah memberikan sedikit bantuan dana untuk mendukung kegiatan rekonsiliasi lanjutan yang akan dilaksanakan minggu depan,” tambahnya.
Dr. Nahor Nekwek menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendukung proses rekonsiliasi secara menyeluruh dan terbuka. Ia juga telah menugaskan Wakil Bupati untuk melakukan koordinasi dengan lima distrik agar laporan dan kegiatan berjalan sesuai rencana.
“Situasi saat ini sudah aman. Kemarin kami telah makan bersama dan melakukan tradisi bakar batu sebagai simbol perdamaian. Lima distrik telah membentuk panitia dan akan segera melaporkan hasilnya. Pemerintah akan memberikan dukungan penuh agar masyarakat merasa puas dan proses rekonsiliasi berjalan lancar,” tutup Bupati.
Tidak ada komentar