Serui, 25 Desember1925: Natal yang Menyalakan Api Iman di Tanah Papua

PapuaTengahNews
14 Des 2025 00:02
3 menit membaca

Oleh Hanz Wanma – Disadur dari Majalah Zending PENINGSKE, Leiden, Belanda, 8 Agustus 1925

Serui, 25 Desember 1925 adalah Sebuah tonggak sejarah besar tercipta di Tanah Papua ketika Perayaan Natal terbesar pertama bagi orang Papua digelar di Serui Pantai. Perayaan ini menjadi momen monumental yang tidak hanya menyatukan ribuan orang dari berbagai penjuru Kepulauan Yapen, tetapi juga menandai awal dari sebuah peradaban baru yang membawa terang Injil ke tengah masyarakat Papua.

Adalah zendeling Dirk C.A. Bout, tokoh utama di balik terselenggaranya perayaan akbar ini. Bout, yang sebelumnya bertugas di Fakfak (1913–1919) dan Miei (1919–1923), mulai melayani di Serui sejak 1 Januari 1924 hingga 1930. Setelah masa tugasnya, ia digantikan oleh zendeling Albert de Neef. Kedua zendeling ini dikenal menguasai budaya dan bahasa masyarakat di seluruh Kepulauan Yapen hingga Waropen, menjadikan mereka tokoh penting dalam penyebaran Injil di wilayah tersebut.

Hebatnya, bahkan sebelum perayaan berlangsung, majalah misi terkemuka di Belanda, PENINGSKE, telah memuat berita tentang persiapan Natal ini dalam edisi 8 Agustus 1925. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa Bout telah mengirimkan berita persiapan Natal ke seluruh penjuru Yapen—utara, barat, timur, dan selatan. Ia bahkan menulis lagu “Malam Kudus” dan mengirimkannya ke para guru di sekolah-sekolah dan jemaat-jemaat untuk dilatih, agar seluruh masyarakat dapat menyanyikannya bersama saat perayaan berlangsung.

Meskipun Injil belum sepenuhnya diterima di beberapa kampung, termasuk Waropen, semangat Natal tetap menyala. Beberapa warga Waropen yang hadir dalam perayaan itu kembali ke kampung mereka dengan penuh cerita dan kekaguman. Mereka menyampaikan tentang pohon terang dan dekorasi indah yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Hal ini memicu keinginan masyarakat Waropen untuk memiliki guru atau pandita agar mereka juga bisa merayakan Natal seperti itu.

Antusiasme masyarakat begitu besar. Sejak tanggal 20 hingga 24 Desember 1925, warga jemaat dan penduduk dari berbagai penjuru Yapen mulai berdatangan ke Serui. Mereka datang dengan perahu-perahu, membawa makanan, ikan, dan hasil buruan. Bahkan ada yang rela berjalan kaki demi ikut serta dalam perayaan ini. Sepuluh kampung di Serui bersatu menyiapkan tempat untuk menampung para tamu yang datang dari pelosok.

Pemandangan di Serui Pantai saat itu begitu menakjubkan. Perahu-perahu dari Ansus, Papuma, Kanaki, Woi, dan Woinap berlabuh, dihiasi obor yang menyala, menciptakan suasana malam yang indah dan penuh haru.

Jumlah jemaat yang terdaftar dalam perayaan ini pun luar biasa:
1. Serui Pantai: 754 orang
2. Serui Darat: lebih dari 700 orang
3. Maryadey: 217 orang
4. Ariepi dan sekitarnya: lebih dari 600 orang
5. Kanaki (kampung Biak): 300 orang

Selain itu, masih banyak kampung lain yang turut hadir namun tidak terdaftar secara resmi. Diperkirakan sekitar 4.000 orang hadir dalam perayaan ini, meskipun sebagian besar dari mereka masih disebut sebagai “kafir” dan belum dibaptis. Pembaptisan massal baru akan dilaksanakan di Menawi pada 10–13 Mei 1931 oleh De Neef dan Bout, dengan jumlah 987 orang—sebuah rekor pada masanya. Rekor ini kemudian dipecahkan oleh Waropen pada tahun 1941, ketika Pdt. D.A. Ten Haaft membaptis 1.000 orang sekaligus.

Saat perayaan dimulai, paduan suara anak-anak sekolah dan jemaat menyanyikan lagu-lagu pujian dan membaca nubuat. Suasana begitu khidmat dan penuh sukacita. Perayaan Natal ini bukan hanya sebuah ibadah, tetapi juga menjadi simbol peradaban baru bagi masyarakat Papua, khususnya di Kepulauan Yapen. Dampaknya sangat besar: banyak kampung yang sebelumnya belum mengenal Injil mulai meminta kehadiran guru dan pandita agar mereka juga bisa merasakan sukacita Natal, nyanyian rohani, pelajaran iman, dan doa.

Natal 1925 di Serui bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah awal dari perubahan besar. Sebuah Natal yang membawa damai dan berkat bagi Tanah Papua.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    x